PMRI, SEBUAH INOVASI DALAM PENDIDIKAN MATEMATIKA DI INDONESIA

Posted: 7 Juni 2009 in Tak Berkategori

Latar Belakang
Salah satu masalah utama yang dihadapi pendidikan di Indonesia adalah masih kurangnya sikap (attitude) siswa terhadap matematika dan rendahnya prestasi siswa dalam belajar matematika. Beberapa laporan menyebutkan faktor penyebabnya antara lain, kurangnya kualitas materi pembelajaran, metode pembelajaran yang mekanistik, serta buruknya sistem penilaian. Di samping itu, menurut Suryanto dan Sommerset (dalam Putri, 2003) beberapa publikasi penelitian tentang sikap dan minat siswa terhadap matematika menunjukkan bahwa sikap atau minat siswa terhadap matematika sangat kurang. Alasan mereka antara lain adalah karena belajar matematika dirasakan sulit dan banyak guru mengelola pembelajaran matematika dengan materi dan metode yang kurang menarik. Hal di atas sejalan dengan pendapat Zamroni (dalam Putri, 2005), bahwa orientasi pendidikan kita masih cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai objek, guru berfungsi sebagai pemegang otoritas keilmuan dan indoktriner, materi bersifat subject-oriented, dan manajemen pendidikan bersifat sentralistik. Sebagai gambaran, mengutip laporan TIMSS, pada tes Trends in International Mathematics and Science Study tahun 2003 ditunjukkan bahwa penguasaan matematika siswa Indonesia pada usia 13-15 tahun, berada pada peringkat 35 dari 44 negara. Hasil tes Program for International Students Assessment (PISA) 2003 juga menunjukkan bahwa penguasaan matematika siswa Indonesia pada usia 13-15 tahun berada pada peringkat 39 dari 41 negara. Fenomena di atas dapat menjadi titik tolak bagi semua pihak yang terkait termasuk pemerintah, sekolah (baca: guru), dan masyarakat untuk membenahi mutu pendidikan matematika di Indonesia. Untuk itu, perlu suatu gerakan untuk melakukan perubahan mendasar dalam pendidikan matematika, terutama dari segi strategi pembelajaran dan pendekatannya. Yang perlu diperbaiki adalah perubahan dari pendekatan tradisional ke pendekatan konstruktivisme/realistik. Penekanannya pada penguasaan tidak hanya materi dasar matematika tetapi juga pada aplikasi atau penerapannya dalam kehidupan sehari-hari siswa. Salah satu pendekatan yang sedang dan terus dikembangkan untuk mengatasi masalah di atas adalah PMRI.

Apa PMRI?
Menurut Zulkardi (2001), Pakar PMRI yang sekarang menjabat Ketua Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Sriwijaya,sekaligus ketua P4MRI Unsri, PMRI adalah singkatan dari Pendidikan Matematika Realistik Indonesia, diadaptasi dari Realistic Mathematics Education (RME) yang dikembangkan oleh Freudenthal Institute di Belanda sejak tahun 1971. PMRI menggabungkan pandangan ‘apa itu matematika’, ‘bagaimana siswa belajar matematika’, dan ‘bagaimana matematika harus diajarkan’. Pendekatan ini menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal (starting point) pembelajaran matematika.
Ada dua hal penting dalam pendidikan matematika, yaitu matematika harus dihubungkan ke realitas dan matematika sebagai aktivitas manusia. Pertama, matematika harus dekat kepada siswa dan relevan dengan situasi kehidupan sehari-hari sehingga pelajaran matematika akan dapat menyenangkan siswa dan tidak menakutkan. Kedua, siswa harus diberi kesempatan untuk belajar melakukan aktivitas matematika pada semua materi matematika.
Pendekatan tradisional, yang menggunakan pendekatan mekanistik, memuat masalah-masalah matematika secara formal. Penggunaan masalah nyata dalam pendekatan mekanistik sering dilakukan sebagai penyimpulan dari proses belajar. Fungsi masalah nyata hanya sebagai materi aplikasi pemecahan masalah dan penerapan materi yang telah dipelajari sebelumnya dalam situasi yang terbatas.
Dalam PMRI, dengan pendekatan realistik, masalah nyata berfungsi sebagai sumber dari proses belajar masalah nyata dan situasi nyata. Keduanya digunakan untuk menunjukkan dan menerapkan konsep-konsep matematika. Perbedaan lain dari PMRI dan pendekatan tradisional adalah bahwa pendekatan tradisional memfokuskan pada bagian kecil materi dan peserta didik diberikan prosedur tetap untuk menyelesaikan soal. Pada PMRI, pembelajaran lebih luas (kompleks) dan konsep-konsepnya bermakna. Peserta didik diperlakukan sebagai partisipan yang aktif dalam pembelajaran sehingga mereka dapat mengembangkan ide-ide matematika.
PMRI mempunyai tiga prinsip kunci (Zulkardi, 2002), yaitu:
1) Guided reinvention (menemukan kembali)/progresive mathematizing (matematisasi progresif): peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang sama sebagaimana konsep-konsep matematika ditemukan. Pembelajaran dimulai dengan suatu masalah kontekstual atau realistik, selanjutnya melalui aktivitas siswa diharapkan menemukan kembali sifat, teorema, atau prosedur. Masalah kontekstual dipilih yang mempunyai berbagai kemungkinan solusi. Perbedaan penyelesaian atau prosedur peserta didik dalam memecahkan masalah dapat digunakan sebagai langkah proses pematematikaan vertikal.
2) Didactical phenomenology (fenomena didaktik): situasi-situasi yang diberikan dalam suatu topik matematika disajikan atas dua pertimbangan, yaitu melihat kemungkinan aplikasi dalam pembelajaran dan sebagai titik tolak dalm proses pematematikaan. Tujuan penyelidikan fenomena-fenomea tersebut adalah untuk menemukan situasi suatu masalah khusus yang dapat digeneralisasikan dan dapat digunakan sebagai dasar pematematikaan vertikal.
3) Self-developed models (pengembangan model sendiri): kegiatan ini berperan sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Model dibuat oleh siswa sendiri dalam memecahkan masalah. Model pada awalnya adalah suatu model dari situasi yang dikenal (akrab) dengan siswa. Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut akhirnya menjadi suatu model sesuai penalaran matematika.
RME atau PMRI mempunyai lima karekteristik dasar (de Lange, 1987; Gravemeijer, 1994 dalam Zulkardi, 2002), yaitu : 1) menggunakan masalah kontekstual, 2) menggunakan model atau jembatan dengan instrumen vertikal, 3) menggunakan kontribusi siswa, 4) interaktivitas, dan 5) terintegrasi dengan topik pembelajaran lain.

Mengapa PMRI?
Dalam Seminar Sosialisasi dan Workshop Lokal PMRI di Tanjung Enim, 23 Mei 2009, Zulkardi (2009) menjelaskan bahwa fenomena matematika sekolah di dunia saat ini menunjukkan bahwa hasil tes internasional/nasional rendah, pembelajaran matematika masih dirasakan sulit sehingga kurang bermakna bagi siswa. Sejalan dengan reformasi internasional matematika (1990-an), era matematika modern bergeser ke era contextual/realistic mathematics. Kita perlu melakukan inovasi dalam pembelajaran matematika: dari pola ‘guru bercerita’ ke ‘siswa mengonstruksi pengetahuan’. Inovasi dalam penilaian: dari ‘penilaian produk’ ke ‘penilaian proses dan produk’.
Pengalaman berharga selama proses uji coba PMRI di beberapa daerah di Indonesia, seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Medan, termasuk Palembang, sejak 2001, meyakinkan kita bahwa apa yang telah dilakukan selama ini baik dan karena itu perlu diteruskan dan disebarluaskan.
Tahun 2009, sudah 18 LPTLK terlibat dalam pengembangan PMRI. Sudah dilakukan tiga evaluasi terhadap uji coba PMRI dan ketiganya memberikan laporan yang sangat menggembirakan. Salah satu dari laporan itu, yang dikerjakan oleh tim independen atas penunjukan pemerintah Belanda, menurut R.K. Sembiring (2006), Ketua Tim PMRI, proyek ini lebih dari sekedar memperkenalkan suatu metode baru mengerjakan matematika. Ternyata penggunanan PMRI merupakan bagian dari suatu usaha yang lebih luas untuk mengubah kultur pendidikan pada tahap dasar. Sesungguhnya, penggunaan metode ini akan mempengaruhi perilaku siswa dan guru di kelas dan hubungan siswa dengan guru. Tanpa melebih-lebihkan, dapat dinyatakan bahwa proyek ini ikut menyumbangkan hubungan yang demokratis di Indonesia, jadi merupakan transformasi sosial.
Zulkardi (2005), mengatakan bahwa dalam kurun beberapa tahun ini PMRI telah menunjukkan perannya dalam meningkatkan mutu pendidikan. Peran tersebut, antara lain adalah peningkatan kualitas pembelajaran di kelas dan peningkatan kemampuan profesionalisme guru dalam mengelola pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
Hal-hal di atas setidaknya merupakan jawaban yang sangat melegakan dan memberi harapan bagi dunia pendidikan kita, khususnya pendidikan matematika. Tinggal lagi tantangannya, bagaimana para guru matematika mampu menyikapi hal di atas. Pertanyaan lain, misalnya bagaimana menerapkan atau mengembangkan PMRI?

Bagaimana PMRI?
Pengembangan PMRI, menurut Zulkardi (2009), dikembangkan dengan model ‘bottom-up’ (baca: bukan diistruksikan dari atas) dan model ‘school development’. Artinya, para guru di sekolah dapat mempelajari PMRI dari berbagai sumber atau dengan berbagai cara, menjalin kerja sama dengan Tim PMRI, LPTK (Unsri), sekolah atau pihak lain untuk menerapkan dan mengembangkan PMRI. Salah satu sumber belajar PMRI bagi para guru adalah Pusat Penelitian dan Pengembangan PMRI (P4MRI). Salah satunya adalah P4MRI Unsri, yang baru diresmikan pada April 2009. Prasyarat untuk itu tentu adalah kemauan yang kuat dari guru itu sendiri. Teringat pada puisi The Willingness to Change yang tertulis di makam Westminster Abbey pada 110M, para guru matematika dapat memulai perubahan besar ke arah kemajuan pendidikan matematika itu ‘dari dirinya sendiri’. Insyaallah, peran sentral dan strategis para ‘guru profesional’ ini akan tidak saja memberi warna namun juga memberi bentuk dan makna pada wajah pendidikan matematika di Indonesia nantinya. Semoga.

Daftar Pustaka
Putri, Ratu Ilma Indra. 2003. “Pengevaluasian Perangkat Pembelajaran Statistika Menggunakan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di SLTP Negeri 17 Palembang”. Makalah pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika tanggal 20-21 Agustus 2003 di Palembang.
Sembiring, R.K. 2006. “Kata Pengantar Ketua Tim PMRI”. Buletin PMRI. Edisi IX Juli 2006. Bandung: IP PMRI.
Zulkardi. 2001. “Realistic Mathematics Education dan Pembelajarannya”. Makalah dalam Seminar Kenaikan Jabatan pada tanggal 21 Maret 2001 di FKIP Universitas Sriwijaya.
Zulkardi. 2002. Developing a Learning Environment on Realistic Mathematics Education for Indonesia Student Teachers. Den Haag: Enshede.
Zulkardi. 2005. “Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dan Implementasinya”. Makalah pada Seminar Kenaikan jabatan dari Lektor Kepala ke Guru Besar Pendidikan Matematika pada tanggal 29 Maret 2005 di Inderalaya.
Zulkardi, 2009. “PMRI, Apa & Bagaimana”. Handout Seminar Sosialisasi dan Workshop Lokal PMRI di Tanjung Enim, 23 Mei 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s