MEMAHAMI RME

Posted: 16 Mei 2009 in pmri

Oleh Pirdaus

1. Filosofi dan Karakteristik RME

RME memiliki filosofi dan karakteristiknya sendiri. Konsep Hans Freudenthal matematika sebagai aktivitas manusia (Freudenthal, 1991). Menurut Freudenthal, para murid tidak diperlakukan sebagai objek penerima pasif ilmu matematika, melainkan pendidikan seharusnya memandu para murid menggunakan peluang untuk menemukan dan mencipta ulang ilmu matematika dengan cara melakukannya sendiri.

Kombinasi tiga tingkat Van Hiele, didactical phenomenology (ilmu yang mempelajari fenomena didikan) Freudenthal dan matematikasi progresif Treffer (Treffer, 1991) menghasilkan lima karakteristik (prinsip) RME (de Lange, 1987; Gravemeijer, 1994):

Penggunaan konteks dalam eksplorasi fenomenologi

Pada RME, titik awal instruksi matematika sebaiknya nyata secara eksperimen kepada siswa, sehingga cepat menghubungkan dengan situasi konteks. Fenomena konsep matematika dalam realita sebaiknya menjadi sumber pembentukan konsep. Proses  penyaringan konsep matematika yang tepat dari situasi konkrit diterangkan oleh de Lange (1987) sebagai matematikasi konsep. Dengan proses refleksi dan generalisasi, para murid akan mengembangkan konsep yang lebih lengkap pada kehidupan sehari-hari mereka. Proses ini dinamakan matematikasi terapan

Penggunaan model atau penyambung dengan instrumen vertikal

Model situasi dan model matematika dikembangkan oleh murid sendiri. Modelnya adalah model dari situasi yang familiar dengan para murid. Dengan proses generalisasi dan formalisasi, modelnya digunakan sebagai model untuk pemikiran atau pemahaman matematis.

Penggunaan kreasi dan kontribusi murid

Murid sebaiknya diajak untuk menciptakan hal-hal yang konkrit. Dengan membuat produksi bebas, para murid didorong untuk merefleksikan pada proses belajar mereka.

Karakter interaktif pada proses pengajaran atau interaktivitas

Interaksi antarmurid dan antara murid-guru serta campur tangan, diskusi, kerjasama, evaluasi dan negosiasi eksplisit adalah elemen-elemen esensial dalam proses pembelajaran konstruktif. Metode informal murid digunakan untuk mencapai metode formal

Hubungan yang saling berikatan pada bagian atau unit matematika yang berbeda-beda

Dalam RME, integrasi unit atau bagian matematika dinamakan pendekatan holistik, yang menggabungkan aplikasi dan menyatakan bahwa bagian pembelajaran saling berkaitan. Hubungan yang saling berkaitan pada itu dieksploitasi dalam memecahkan masalah kehidupan nyata

Lima karakteristik atau konsep/prinsip RME digunakan sebagai panduan dalam merancang bahan kurikulum.

2. Merancang Bahan Kurikulum RME

Streetfland (1991) mengembangkan bahan pelajaran matematika realistik (fraksi/pembagian di SD) yang menggunakan tiga tingkat konstruksi: tingkat kelas; tingkat mata pelajaran, dan tingkat teoritis

Tingkat kelas

Aktivitas instruksi dirancang berdasarkan pada semua karakteristik RME. Bahan terbuka dikenalkan ke dalam situasi belajar, sedangkan peluang diberikan untuk melaksanakan produksi bebas. Karakteristik RME diterapkan ke pelajaran

Tingkat mata pelajaran

Pada tingkat ini, setelah bahan-bahan dari tingkat kelas diujicobakan dan direvisi, mereka diekspansikan ke konten lain untuk mengembangkan rangkaian instruksi dari suatu topik. Untuk meraih kontribusi ke proses pembelajaran pada tingkat lokal harus berlanjut pada tingkat umum.

Tingkat teoritis

Semua aktivitas yang berperan dalam kedua tingkat sebelumnya membentuk sumber produksi teoritis proceeding¾bahan generatif untuk tingkat ini. Teori dalam teori lokal untuk area pembelajaran yang spesifik dibangun, direvisi dan diuji lagi selama pengembangan siklus tambahan.

3. Bahan Pelajaran Ideal RME

Bahan pelajaran ideal RME terdiri dari komponen utama: bahan isi, aktivitas guru dan murid, dan penaksiran/penilaian.

Bahan isi

Bahan RME diasosiasikan dengan aktivitas domain spesifik, pengetahuan situasi dan strategi digunakan dalam konteks situasi asli. Rangkaian masalah konteks harus membimbing murid untuk menguasai konsep matematis. Tingkat kesulitan masalah konsep harus tepat untuk tujuan topik matematika tertentu.

Aktivitas: Peran guru dan murid

Peran guru RME di kelas adalah (de Lange, 1996; Gravemeijer, 1994): fasilitator, pelaksana, pemandu, dan pengevaluasi. Peran murid di kelas RME adalah bekerja secara individu atau berkelompok, aktif, dan tidak tergantung pada guru, serta dapat  menghasilkan kontribusi atau kreasi bebas.

Penaksiranatau penilaian

De Lange (1987) merumuskan lima prinsip panduan penaksiran atau penilaian dalam RME:

  1. Tujuan utama pengujian adalah untuk memperbaiki proses belajar-mengajar.
  2. Metode penilaian sebaiknya dapat memudahkan para murid mendemonstrasikan apa yang mereka tahu ketimbang apa yang tidak tahu.
  3. Penilaian sebaiknya mengoperasionalkan semua tujuan pendidikan matematika.
  4. Kualitas penilaian matematika tidak ditentukan oleh kemudahan akses terhadap penilaian objektif.
  5. Alat penilaian sebaiknya praktis, cocok dengan praktik sekolah umum.

Sumber: Zulkardi. 2002. Developing a Learning Environment on Realistic Mathematics Education for Indonesian Student Teachers.Enschede: Print Patners Ipskamp.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s